Suluk Sunan Kalijaga Yang Fenomenal Yang Terkenal Sampai Sekarang

Saudara-saudariku....
Dari sekian banyak Suluk-Suluk Demak, yaitu suluk-suluk yang dibuat pada masa Kerajaan Islam Pertama, Demak Bintoro, ada satu suluk yang sampai sekarang masih populer dan banyak didendangkan masyarakat Jawa, yaitu sebuah suluk yang dipercaya sebagai ciptaan Sunan Kalijaga.
Suluk ini dikenal dengan tiga nama, yakni:

  1. Serat atau Surat atau Kitab Kidungan Kawedar, 
  2. Kidung Sarira Ayu, sesuai dengan bunyi teks dalam bait ketiga, 
  3. Kidung Rumeksa Ing Wengi, sesuai bunyi teks diawal Surat,

sebagaimana kita lazim menyebut Surat Al Ikhlas dengan nama Surat Qulhu atau Surat Al Insyiraah dengan Surat Alam Nasyrah.

Suluk ini merupakan kidung yang sangat populer bagi grup-grup karawitan atau seni gamelan Jawa, dan lebih khusus lagi bagi grup-grup tembang Jawa (macapatan)
Berikut ini kidung Rumeksa ing wengi

Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno
Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Wong lemah miring
Myang pakiponing merak
Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa
Napasku nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup pamiryarsaningwang
Dawud suwaraku mangke
Nabi brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusuf rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih daging Ngumar singgih
Balung baginda ngusman
Sumsumingsun Patimah linuwih
Siti aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhamad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para nabi
Dadya sarira tunggal

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

Ada kidung rumekso ing wengi. Yang menjadikan kuat selamat terbebas
dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun
tidak mau. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat.
guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku.
Segala bahaya akan lenyap.
Semua penyakit pulang ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh dibesi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.
Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua slamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan.
Hatiku Adam dan otakku nabi Sis.
Ucapanku adalah nabi Musa.
Nafasku nabi Isa yang teramat mulia.
Nabi Yakup pendenganranku.
Nabi Daud menjadi suaraku.
Nabi Ibrahim sebagai nyawaku.
Nabi sulaiman menjadi kesaktianku.
Nabi Yusuf menjadi rupaku.
Nabi Idris menjadi
rupaku.
Ali sebagai kulitku.
Abubakar darahku dan
Umar dagingku.
Sedangkan Usman sebagai tulangku.
Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia.
Siti fatimah sebagai
kekuatan badanku.
Nanti nabi Ayub ada didalam ususku.
Nabi Nuh
didalam jantungku.
Nabi Yunus didalam otakku.
Mataku ialah Nabi
Muhamad.
Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka
lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.
Lagu Lingsir Wengi ini adalah Doa Munajat Sunan Kalijaga
Lagu Lingsir Wengi ini boleh dinyanyikan oleh ibu-ibu untuk menidurkan anaknya di kala malam yang sunyi, yang berfungsi agar si anak diberikan perlindungan oleh Tuhan.

Berikut ini beberapa hal yang berkaitan dengan makna lagu lingsir wengi ini:
1. Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga yang mempunyai nama kecil Raden Said ini memiliki nama-nama lain seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.
Beliau lah yang menciptakan lagu atau kidung Lingsir Wengi tersebut.
Nama Kalijaga diperoleh karena beliau menyukai berendam di sungai pada saat beliau berada di Cirebon.
Namun menurut pengamat lainnya, menyatakan bahwa kata Kalijaga berasal dari bahasa arab yaitu “Qadli Dzaqa” yang berarti penghulu suci kesultanan.

2. Sarana Dakwah

Sunan Kalijaga sangat menyukai kesenian, sehingga beliau memakai kesenian sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam pada masa itu.
Sunan Kalijaga menggunakan seni ukiran, wayang, gamelan, serta nyanyian dalam dakwahnya.
Salah satunya yang beliau gunakan adalah kidung Lingsir Wengi tersebut yang berisi doa kepada Tuhan.
Selain itu, ia juga menciptakan baju takwa, perayaan sekatenan di Yogyakarta, dan lain-lain.

3. Lagu Gending Jawa

Sunan Kalijaga menciptakan kidung Lingsir Wengi dengan memakai pakem gending Jawa yaitu Macapat.
Pakem Macapat ini terdiri dari 11 macam pakem yang salah satunya yaitu pakem Durma yang dipakai dalam Lingsir Wengi.
Lagu-lagu yang memakai Pakem Durma harus mencerminkan suasana yang keras, sangar, suram, kesedihan, bahkan bisa mengungkapkan sesuatu yang mengerikan dalam kehidupan.
Oleh sebab itu, lagu Lingsir Wengi dilantunkan dengan perasaan yang lembut, tempo pelan, dan sangat menyayat hati.

4. Lagu Tolak Bala

Lagu Lingsir Wengi dipakai oleh sunan Kalijaga setelah melakukan solat malam yang berfungsi untuk menolak bala atau mencegah perbuatan makhluk gaib yang ingin mengganggu.
Selain itu makna lagu tersebut tersirat menyatakan sebuah doa kepada Tuhan seperti yang dinyatakan dalam lirik lagunya :

Lingsir wengi sliramu tumeking sirno
Ojo tangi nggonmu guling
Awas jo ngetoroAku lagi bang wingo wingo
Jin setan kang tak utusi
Dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet

Dalam Bahasa indonesia :

Menjelang malam, dirimu(bayangmu) mulai sirna…
Jangan terbangun dari tidurmu…
Awas, jangan terlihat (memperlihatkan diri)…
Aku sedang gelisah,
Jin setan ku perintahkan
Jadilah apapun juga,
Namun jangan membawa maut…
Demikianlah tentang Lagu lingsir wengi atau Suluk Kidung Kawedar atau Kidung Sarira Ayu, yang pada hemat saya mengandung dua makna utama.

Pertama, kidung yang penuh dengan tamzil dan perumpamaan ini, memperkenalkan Islam secara bertahap.

Kedua, merupakan jalan untuk menyatu dengan Gusti Allah, Sang Guru Sejati. Kidung ini bisa menjadi wahana untuk senantiasa mengingat dan menyatu dengan Gusti Alah (dzikrullah),
antara lain dengan membiasakan mendendangkannya di tengah malam serta kapan saja mengikuti setiap tarikan nafas kita.

Semoga Manfaat
Disqus Comments